TUGAS GURU
Siang tadi Sekolah saya kedatangan TIM Monotoring Sekolah Standar Nasional dari Pusat. Banyak hal yang dimonitoring terutama berkaitan dengan manajemen sekolah. Salah satu agenda monitoring adalah monitoring kegiatan guru. Tim sendiri meminta, satu orang guru senior dan satu orang guru baru.
Sebagai satu-satunya guru berkepala kurang dari 3, saya kecipratan dimonitoring. Awalnya sih ga masalah, sebab semua perangkat pembelajaran sudah saya lengkapi sebelumnya. Tapi justru pertanyaan pertama dari Tim Monitorning yang tidak dapat saya jawab dengan memuaskan ;
APA TUGAS SEORANG GURU???
Otak mulai bekerja mengingat materi mata kuliah profesi keguruan waktu kuliah dulu.. (tapi ga ketemu-ketemu). Akhirnya saya jawab tugas seorang guru adalah mendidik, mengajar, melatih, membimbing.
Tanggapan TIM?? Ternyata tugas seorang guru saat ini tidak dirumuskan seperti itu. Menteri Pendyagunaan Aparatur Negara sudah mengeluaran permen yang menyebutkan bahwa tugas seorang guru adalah sebagai berikut; menyiapkan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, melaksanakan evaluasi, analisis dan pengayaan atau remedial. Hal-hal yang sudah selalu saya lakukan tapi lupa menyebutkan bahwa itu tugas seorang Guru.
Jadi malu.. apa itu erarti saya ga professional?? Alias guru Amatir?? Biar TIMnya aja yang menilaiJ
Menentukan Akar pangkat tiga dengan Pasangan Satuan Pangkat Tiga
Mengajarkan cara menentukan akar (akar kuadrat maupun akar pangkat tiga) suatu bilangan memang susah-susah gampang. Hal ini terjadi terutama pada siswa SD dan SMP, padahal kemampuan ini sangat penting dalam perhitungan matematika. Untuk mengajarkan materi ini tentu setiap kita harus memiliki teknik-teknik khusus yang cepat dimengerti siswa.
AKAR KUADRAT
Ada beberapa pendekatan yang digunakan guru dalam mengajarkan akar kuadrat.
Yang pertama adalah mencari factor prima, pendekatan yang paling sering dan paling rutin kita gunakan.
Contoh :
Terlebih dulu dicari factor prima dari 1296 (bisa diajarkan dengan menggunakan pohon factor ataupun cara vertical) sehingga diperoleh :
Karena akar kuadrat maka setiap 2 angka yang sama ditulis satu kali saja, sehingga:
Sekilas memang cara ini Nampak sederhana sekali, namun seringkali siswa merasa bosan mengerjakan pembagian yang berulang ulang ketika harus mencari factor prima.
Yang kedua adalah cara trial and error
Contoh :
Siswa tentunya dengan mudah mengetahui bahwa . Jadi sudah pasti diantara 30 dan 40. Terdapat dua bilangan yang bila dikuadratkan menghasilkan satuan 6 yaitu 4 dan 6. Jadi kemungkinan jawabannya 34 dan 36.
SALAH
BENAR
Bukankah cara ini perhitungannya lebiih sederhana lagi??
Trick yang mana yang lebih baik digunakan?? Silakan dinilai sendiri dan rasanya tidak semua siswa punya piliahan yang sama.
Bagaimana dengan AKAR PANGAT TIGA?
Akar pangkat tiga juga dapat dicari dengan menggunkan faktor prima. Dalam hal ini setiap 3 faktor prima yang sama ditulis sekali saja:
Contoh:
Dengan faktorisasi prima diperoleh
Sehingga:
Seperti disampaikan di atas, dengan cara ini siswa juga mengalami kejenuhan ketika harus melakukan pembagian berulang-ulang.
Berikut ini saya memperkenalkan cara lain yang menggunakan pasangan satuan pangkat tiga
pertama kita harus menghafal pangkat tiga dari 1-10
|
PANGKAT TIGA |
PASANGAN SATUAN |
|
1-1 |
|
|
2-8 |
|
|
3-7 |
|
|
4-4 |
|
|
5-5 |
|
|
6-6 |
|
|
7-3 |
|
|
8-2 |
|
|
9-9 |
|
|
10-0 |
Selanjutnya kita tinggal menggunakan table di atas.
Contoh:

Sehingga jawabannya adalah 16
Mari kita tinjau contoh lainnya;
Sehingga jawabannya adalah 27

Contoh lain;

Sehingga jawabannya adalah 47
Bagaimana?? Mudah bukan??
Silakan dicobakan di kelas… Selamat mencoba J
Yang Baru dalam Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) merupakan salah satu perangkat terpenting yang harus disiapkan guru sebelum mengajar di kelas. Berdasarkan PP NO 19 TAHUN 2005 Pasal 20, RPP merupakan komponen perencanaan proses pembelajaran disamping silabus dan yang memuat sekurang-kurangnya tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pengajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar. RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas mencakup 1 (satu) kompetensi dasar yang terdiri atas 1 (satu) indikator atau beberapa indikator untuk 1 (satu) kali pertemuan atau lebih. Alur pembuatan RPP dapat digambarkan sebagai berikut.

Untuk tampil maksimal di depan kelas, dan mampu mencipatakan suasna belajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, sudah tentu RPP harus dibuat sebaik mungkin dan sedetail mungkin. Permendiknas no.41 tahun 2007 menjelaskan pengembangan RPP sendiri harus mengikuti beberapa prinsip, diantaranya: memperhatikan perbedaan individu peserta didik,. mendorong partisipasi aktif peserta didik, mengembangkan budaya membaca dan menulis, memberikan umpan balik dan tindak lanjut, keterkaitan dan keterpaduan, menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. Sejalan dengan prinsip-prinsip tersebut, ada beberapa langkah yang harus ditempuh dalam pembuatan RPP yaitu.
- Mengisi kolom identitas
- Menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan untuk pertemuan yang telah ditetapkan
- Menentukan SK, KD, dan Indikator yang akan digunakan yang terdapat pada silabus yang telah disusun
- Merumuskan tujuan pembelajaran berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan
- Mengidentifikasi materi ajar berdasarkan materi pokok/ pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar merupakan uraian dari materi pokok/pembelajaran
- Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
- Merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir.
- Menentukan alat/bahan/ sumber belajar yang digunakan
- Menyusun kriteria penilaian, lembar pengamatan, contoh soal, teknik penskoran, dll
Salah satu langkah yang terpenting dalam pembuatan RPP di atas adalah merumuskan langkah-langkah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan awal, inti, dan akhir. Sesuai dengan PERMENDIKNAS NOMOR 41 TAHUN 2007, langkah-langkah pembelajaran di kelas dapat digambarkan sebagai berikut:

Dari bagan di atas, tentu kita sudah tidak asing lagi dengan 2 kegiatan yang harus dilakukan di kegiatan awal yaitu Apersepsi dan Motivasi, karena keduanya memang sudah bias kita gunakan dalam RP (Rencana Pembelajaran) pada saat berlakunya KBK. Yang masih menjadi pertanyaan bagi sebagian besar guru pada saat ini adalah bagimana sebenarnya kita merumuskan kegiatan yang termasuk eksplorasi, elaborasi maupun konfirmasi:
- Eksplorasi, adalah kegiatan yang berorientasi pada hal-hal berikut
- Melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari aneka sumber
- Menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain.
- Memfasilitasi terjadinya interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya.
- Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran.
-
Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, dan lapangan
2. Elaborasi
- Membiasakan peserta didik membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna
- Memfasilitasi peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru yang baik secara lisan maupun tertulis.
- Memberi kesempatan untuk berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut
- Memfasilitasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif
- Memfasilitasi peserta didik berkompetensi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar
- Memfasilitasi membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis, secara individu maupun kelompok
- Memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan hasil kerja individual maupun kelompok
- Memfasilitasi peserta didik melakukan pameran, turnamen, festival serta produk yang dihasilkan.
-
Memfasilitasi peserta didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta didik
3. Konfirmasi
- Memberikan umpan balik positif dan penguatan dalam bentuk lisan.tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan peserta didik
- Memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber.
- Memfasilitasi peserta didik melakukan melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yaqng telah dilakukan
-
Memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar :
- Berfungsi sebagai nara sumber dan fasilitator dalam menjawab peserta didik yang mengalami kesulitan , dgn.menggunakan bahasa yang baku dan benar
- Membantu menyelesaikan masalah
- Memberi acuan agar peserta didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi
- Memberi informasi untuk berekplorasi lebih jauh
- Memberikan motivasi kepada peserta didik yang belum berpartisipasi aktif.
Sebenarnya yang perlu diakukan sekarang hanyalah menyesuaikan langkah-langkah pembelajarn yang sudah pernah dirancang sebelumnya dengan ketiga komponen di atas.
Dengan semakin lengkapnya perencanaan yang kita buat, semoga dapat menjadi awal terlaksananya pembelajaran di kelas dengan baik.
“Kita tidak akan pernah dapat mengajarkan sesuatu kepada seeorang, kita hanya bias membantu orang tersebut untuk menemukan sesuatu”(Aristoteles)
Sebagian isi artikel di atas adalah materi diklat Merancang Pembelajaran yang Inovatif bagi guru SMP dan MTS di Kabupaten Jembrana, Bali
Model Pembelajaran Pemerolehan Konsep
MODEL PEMEROLEHAN KONSEP merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat dicobakan guru matematika dalam pembelajaran. Melalui model ini siswa diposisikan secara aktif baik dalam menemukan konsep maupun menggunakan konsep tersenut. Moedjiono dan Dimyati (1991/1992) mengemukakan bahwa yang dimaskud dengan model pemerolehan konsep adalah suatu pola belajar mengajar yang dirancang untuk memperoleh konsep. Model ini dapat dilakukan dengan suatu strategi mengajar yang berorientasi pada menerima konsep serta mempertimbangkan dan memilih konsep, disamping juga berorientasi pada keaktifan siswa memperoleh konsep. Lebih lanjut dikatakan bahwa rasional dari model ini adalah adanya kesadaran bahwa dari sejak kecil siswa telah bergaul dengan lingkungannya dan secara aktif terdorong untuk memperoleh konsep-konsep, yang dimulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Jadi siswa sejak kecil telah dibentuk oleh lingkungannya untuk secara aktif berupaya memperoleh berbagai konsep. Hal inilah yang selanjutnya perlu dikembangkan untuk mendorong siswa terlibat aktif dalam pembelajaran.
Sebagaimana model-model pembelajaran yang lain, model pemerolehan konsep juga memiliki sintaks tertentu. Adapun sintaks dari model pemerolehan konsep adalah sebagai berikut.
-
Siswa diperkenalkan dengan data dan pengertian konsep beserta ciri-cirinya. Dalam hal ini guru bisa memberikan tugas untuk mengkaji data guna memperoleh konsep yang dipelajari. Dalam penelitian ini, siswa diberikan maslaah pada LKS I yang harus dicoba dikerjakan oleh siswa berdasarkan pengalaman di lingkungan mereka ataupun berdasarkan konsep-konsep yang telah pernah dipelajari sebelumnya.
-
Memeriksa kebenaran pemerolehan pengertian atau konsep tertentu. Jadi sebagai kelanjutan langkah pertama, dalam hal ini siswa ditugaskan untuk mempresentasikan hasil kerjanya guna melihat apakah pengertian atau konsep yang telah diperoleh siswa sudah benar atau masih perlu mendapat perbaikan.
-
Menganalisis cara-cara berpikir tentang “bagaimana memperoleh konsep”. Dalam hal ini siswa diminta mengkomunikasikan bagaimana mereka mendapatkan solusi dari pemecahan masalah yang dihadapi. Dengan cara ini akan diketahui apakah proses berpikir siswa sudah sesuai dengan penalaran matematis yang dipersyaratkan.
-
Menggunakan pengertian, kesimpulan, batasan, atau cara pemerolehan konsep dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat ini siswa dihadapkan dengan beberapa masalah (baik masalah matematika maupun masalah yang terkait dengan kehidupan sehari-hari) untuk diselesaikan berdasarkan pengertian atau konsep yang telah diperolehnya.
Dalam uraian sintaks di atas nampak bahwa siswa akan berposisi sebagai pencari pengetahuan, dalam artian mereka secara aktif dilibatkan untuk memperoleh konsep serta terlatih pula menggunakan konsep yang dimiliki dalam pemecahan masalah yang dihadapi. Jadi dengan melaksanakan proses pembelajaran berdasarkan sintaks yang digariskan dalam model pemerolehan konsep ini dapatlah dilihat bahwa melalui proses pembelajaran tersebut siswa akan terlatih untuk bernalar, memecahkan masalah serta memperoleh pemahaman yang memadai mengenai konsep yang sedang dipelajari. Proses pembelajaran ini jelas sangat relevan dengan tuntutan KBK yang menekankan pengembangan kompetensi dasar dan pemahaman konsep. Disamping sintaks di atas, model pemerolehan konsep juga memiliki komponen yang lain diantaranya sistem sosial, prinsip reaksi, dampak instruksional dan dampak pengiring.
Dalam sistem sosial model ini, pola hubungan guru dan siswa tergolong tinggi. Perilaku guru dan siswa antara lain adalah sebagai berikut.
-
Guru memilih pengertian, batasan, kesimpulan, contoh penggolongan, dan benda-benda atau peragaan-peragaan yang akan dijadikan bahasan.
-
Guru mengorganisasikan bahan-bahan tersebut secara tersusun hierarkis secara berurut contoh-contoh konkret, fakta, konsep, generalisasi, sampai teori.
-
Guru bertindak sebagai fasilitator, pemberian informasi, teman berpikir dan pembimbing pemeroleh pengertian dan cara berpikir.
Komponen selanjutnya adalah prinsip reaksi guru terhadap siswa, dimana prilaku guru sebagai berikut :
-
Pembuka perilaku belajar pemerolehan konsep.
-
Fasilitator, pembimbing dialog, dan pembimbing cara- cara berpikir.
-
Memusatkan perhatian siswa dalam analisis konsep, dan cara- cara berpikir pemerolehan konsep.
Selain itu, model pemerolehan konsep ini memiliki dampak instruksional yaitu siswa memiliki pemahaman konsep dan cara memperoleh pengertian atau pemahaman. Adapun dampak pengiring dari model ini adalah dimilikinya penalaran logis serta dimilikinya sikap tenggang rasa terhadap perbedaan cara bernalar.
Jika dilihat dari komponen-komponen model di atas dapat dikatakan setiap komponen sangat mendukung pelaksanaan KBK, karena dari uraian di atas tampak bahwa siswa diposisikan sebagai pencari pengetahuan. Dengan menggunakan fasilitas yang telah dipersiapkan, siswa dibuat untuk berperan aktif dan tanpa dipaksakan untuk mengikuti cara yang dimiliki guru sehingga akan tumbuh kemampuan bernalar sesuai dengan potensinya sendiri, serta guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi atau pengetahuan melainkan lebih cenderung sebagai fasilitator yang berupaya mendorong siswa untuk menemukan konsep dengan cara atau potensinya sendiri.
Kemudian jika dilihat dari komponen-komponen model di atas dapat dikatakan sangat mendukung pelaksanaan KBK, karena dari uraian Moedjiono dan Dimyati (1991/1992) tentang komponen model di atas tampak bahwa siswa diposisikan sebagai pencari pengetahuan. Dengan menggunakan fasilitas yang telah dipersiapkan, siswa dibuat untuk berperan aktif dan tanpa dipaksakan untuk mengikuti cara yang dimiliki guru sehingga akan tumbuh kemampuan bernalar sesuai dengan potensinya sendiri, serta guru tidak lagi berperan sebagai pemberi informasi atau pengetahuan melainkan lebih cenderung sebagai fasilitator yang berupaya mendorong siswa untuk menemukan konsep dengan cara atau potensinya sendiri.
Dalam penerapannya Model Pembelajaran ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan-pendekatan pembelajaran tertentu, misalnya pendekatan pemecahan masalah.
Sumber: Moedjiono dan Moh Dimyati. 1991/1992. Strategi Belajar Mengajar.Dirjen Dikti
Masalah Open Ended dalam Pembelajaran Matematika
Masalah matematika dapat dikelompokkan dalam dua tipe yaitu masalah terbuka (open problem) dan masalah tertutup (closed problem). Masalah tertutup merupakan masalah atau soal matematika yang disusun secara eksplisit, dengan solusi tunggal, spesifik serta prosedur penyelesaian tunggal. Selama ini buku-buku pelajaran di sekolah masih didominasi oleh masalah matematika tertutup (closed problem) atau istilah lainnya well structured problem atau masalah yang tersusun dengan baik. Kondisi ini cenderung menyebabkan pembelajaran matematika menjadi pembelajaran yang menekankan langkah-langakah secara eksplisit step by step. Sedangkan masalah terbuka adalah masalah yang memiliki banyak penyelesaian dan banyak cara untuk mendapatkan suatu penelesaian.
Secara konseptual Open-ended problem dalam pembelajaran matematika adalah maslah atau soal-soal matematika yang dirumuskan sedemikian rupa, sehingga memiliki beberapa atau bahkan banyak solusi yang benar, dan terdapat banyak cara untuk mendapatkan solusi itu. Istilah lain dari open ended problem adalah ill structured problem, atau incompleted problem sebab secara sengaja tidak memberikan semua informasi secara lengkap berkaitan dengan masalah matematika yang harus dipecahkan oleh siswa, atau menyembunyikan beberapa bagian informasi yang berkaitan dengan masalah, justru untuk mengundang kreativitas berfikir divergen dan kritis. Shimada (1997) mengemukakan bahwa open-ended problem memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari sesuatu yang baru dalam proses pemecahan masalah (experience in finding something new in the process). Masalah open ended sering pula digunakan sebagai evaluasi proses, sebab dalam open-ended problem siswa tidak hanya dituntut menemukan solusi dari masalah yang diberikan tetapi juga memberikan argumentasi tentang jawabannya itu serta menjelaskan bagaimana dia bisa sampai pada jawaban tersebut.
Sudiarta (2005) mengamukakan bahwa open ended problem pada umumnya memiliki ciri sebagaiu berikut : (1) Dideskripsikan secara tidak lengkap, artinya membiarkan atau menyembunyikan atau menghilangkan sebagian informasi yang berkaitan dengan masalah, justru untuk dikonstruksi oleo siswa sendiri dalam rangka mengembangkan berbagaiperspektif dan kritis, (2) Dirumuskan sedemikian rupa sehingga memungkinkan adanya lebih dari satu jawaban benar, (3) Hasil Pemecahan masalah tidak dapat ditebak-tebak, apalagi hanya menggunakan basis skill dan fakta-fakta saja, (4) Informasi dapat diinterprestasikan secara bervariasi, (5) Perlu dipecahkan secara berulang-ulang jika ada perubahan kondisi dan penambahan informasi secara lebih baik , dan (6) Dapat dipecahkan dengan suatu proses pemecahan masalah.
Selain ciri tersebut di atas,open-ended problem haruslah memiliki karakteristik: (1) Melibatkan konsep-konsep matematis yang signifikan, (2) Menghasilkan berbagai kemungkinan respond dan solusi pemecahan yang reasonable, (3) Memungkinkan penalaran dan komunikasi, (4) Diungkapkan secara jelas dan tepat, (5) Kemungkinan rubrik penilaian.
Hello world!
Selamat datang di Blog saya, rencananya blog ini akan saya isi dengan artikel-artikel pendidikan dan beberapa artikel lainnya. Swaha..